Batam, desaintoday.com – Warga Bengkong dan Batuampar, Batam, masih harus bergantung pada pasokan air melalui mobil tangki. Proyek jaringan pipa air bersih yang diharapkan menjadi solusi permanen belum juga rampung hingga memasuki pertengahan Agustus.
Padahal, proyek tersebut sebelumnya ditargetkan selesai paling lambat Juli. Kini, BP Batam menggeser target penyelesaian dan pengoperasian jaringan pipa ke September 2026.
Keterlambatan itu membuat warga di sejumlah kawasan terdampak harus kembali menunggu. Persoalan semakin berat karena distribusi air melalui mobil tangki dalam beberapa hari terakhir juga dikeluhkan tidak selalu berjalan lancar.
Sejumlah warga mengaku pasokan air terlambat, bahkan tidak datang sesuai kebutuhan. Kondisi tersebut membuat pengurus RT dan RW ikut menerima keluhan ketika kebutuhan air rumah tangga tidak terpenuhi.
Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, mengatakan pemasangan jaringan pipa menuju Bengkong dan Batuampar masih terus dikerjakan. Beberapa kawasan yang mengalami gangguan pasokan, seperti Sengkuang dan Batu Merah, disebut sudah mendekati tahap akhir.
“Daerah yang terdampak besar seperti Sengkuang, yang selama ini pemasangan pipanya sudah hampir selesai. Mudah-mudahan di September itu sudah bisa teraliri (air),” kata Denny, Selasa (11/8/2026).
Dengan target tersebut, masa ketergantungan warga terhadap air tangki kembali diperpanjang. Selama jaringan pipa belum tersambung dan dialiri, mobil tangki masih menjadi salah satu penopang utama kebutuhan air masyarakat.
Namun, skema distribusi sementara itu belum sepenuhnya bisa diandalkan. Warga menyebut pengiriman air dalam beberapa hari terakhir tidak selalu sesuai jadwal. Kendala teknis dan gangguan kendaraan disebut menjadi sejumlah alasan keterlambatan.
Bagi warga, persoalan tersebut tetap menyulitkan karena air merupakan kebutuhan sehari-hari untuk mandi, memasak, mencuci, hingga kebutuhan dasar lainnya.
Pengurus lingkungan pun ikut terdampak. RT dan RW menjadi tempat warga menyampaikan keluhan ketika pasokan air tangki tidak kunjung datang.
Denny mengakui pelayanan air di Batam saat ini memang belum sepenuhnya stabil. Karena itu, ia meminta masyarakat, pelaku usaha, dan seluruh pengguna air untuk menggunakan air secara bijak.
“Memang kondisi pelayanan air untuk saat ini belum begitu stabil,” tuturnya.
Menurut Denny, kondisi pelayanan air Batam tidak terlepas dari keterbatasan sumber air baku. Batam tidak memiliki sumber mata air besar dan sangat bergantung pada air hujan yang ditampung melalui waduk.
“Batam tidak punya sumber mata air dan kita sangat bergantung pada tadah hujan. Kita harus menjaga daerah tangkapan air, hutan dan lain-lain,” ujarnya.
Di sisi lain, kebutuhan air terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, kawasan permukiman, dan aktivitas industri. Karena itu, menjaga ketersediaan air baku menjadi bagian penting selain memperluas jaringan distribusi.
Denny juga mengingatkan masyarakat untuk tidak menggunakan air secara berlebihan sebagai salah satu cara mengurangi tekanan terhadap pasokan.
“Yang kedua, kita harus bijak dalam penggunaan air,” katanya.
Pembangunan jaringan pipa Bengkong-Batuampar diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap mobil tangki. Setelah jaringan tersambung dan beroperasi, pasokan air bisa disalurkan langsung kepada pelanggan di kawasan yang selama ini mengalami gangguan.
Namun, sebelum jaringan baru benar-benar mengalir, warga masih membutuhkan kepastian pasokan sementara. Sebab, kebutuhan air tidak dapat menunggu hingga proyek selesai.
BP Batam berharap kawasan yang terdampak paling besar, termasuk Sengkuang dan Batu Merah, segera mendapatkan aliran setelah pekerjaan pipa rampung.
“Insya Allah di September itu sudah mulai beroperasi,” kata Denny.
Kini, September menjadi target baru yang kembali ditunggu warga. Selama jaringan belum beroperasi penuh, mobil tangki tetap menjadi penyangga utama agar masyarakat tidak kembali menghadapi kekosongan air.(*)
















