Batam, desaintoday.com – Gangguan pasokan air bersih masih dirasakan sejumlah warga di Batam, Kepulauan Riau. Kawasan Sengkuang, Batu Merah, Jodoh, Nagoya hingga sejumlah wilayah yang masuk kategori stress area masih menjadi perhatian pengelola.
Badan Pengusahaan (BP) Batam kini menyiapkan penguatan sistem Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA) untuk memantau jaringan air secara lebih cepat, termasuk mendeteksi gangguan dan kebocoran pipa.
Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam Ariastuty Sirait mengatakan, kebocoran pipa sebelumnya terjadi di kawasan Jodoh, Nagoya dan sekitarnya. Kebocoran tersebut telah selesai diperbaiki.
“Satu yang saya ketahui kemarin itu memang ada kebocoran (pipa) di beberapa daerah khususnya daerah Jodoh, Nagoya dan sekitarnya (yang terdampak). Tetapi kebocoran itu telah selesai. Sekarang menunggu normalisasi,” kata Ariastuty, Minggu (13/9/2026).
Menurut Ariastuty, proses normalisasi diperlukan agar tekanan dan aliran air kembali stabil di wilayah yang sebelumnya terdampak.
“Jadi kita harapkan pada hari ini sudah bisa lancar,” ujarnya.
Persoalan kebocoran tersebut menjadi salah satu alasan BP Batam kembali memperkuat sistem pemantauan jaringan air. Melalui SCADA, kondisi jaringan dapat dipantau secara langsung, termasuk aliran dan tekanan air.
Dengan sistem tersebut, gangguan di jaringan diharapkan bisa diketahui lebih cepat. Penanganan pun dapat dilakukan sebelum gangguan meluas dan berdampak terhadap lebih banyak pelanggan.
“Nanti akan diadakan. Itu sudah dikomunikasikan antara SPAM BP Batam dengan juga Moya,” kata Ariastuty.
Dia mengatakan BP Batam akan menata sistem SCADA agar pemantauan jaringan air dapat dilakukan secara lebih rapi dan terintegrasi.
“Jadi nanti BP akan mengadakan sistem SCADA yang lebih rapi lagi,” ujarnya.
Penguatan sistem pemantauan tersebut ditargetkan dapat selesai dalam satu tahun ke depan. Namun, Ariastuty mengaku masih perlu memastikan kembali jadwal pelaksanaannya dengan deputi yang kini menangani urusan air di BP Batam.
“Kita harapkan selesai mungkin tahun depan. Nanti kita cek lagi ke Deputi (Bidang Pengusahaan BP Batam yang menaungi air) karena saya bukan lagi deputi air lagi ya. Nanti saya cek,” ujar dia.
Sebelumnya, BP Batam menyebut sejumlah kawasan masih menjadi perhatian karena berada di wilayah stress area atau ujung jaringan (end of line) dengan tekanan air yang relatif terbatas.
Kondisi itu antara lain ditemukan di Tanjung Sengkuang, Batu Merah, Bengkong, Sei Lekop, Sagulung Baru hingga sebagian kawasan Marina.
BP Batam bersama PT Air Batam Hilir (ABHi) juga tengah memperkuat jaringan sebagai solusi jangka menengah dan panjang. Penguatan di kawasan Tanjung Sengkuang, Batu Merah dan Bengkong dilakukan melalui sejumlah segmen jaringan, sementara kawasan Saguba, Sei Lekop dan sebagian Marina masuk dalam program prioritas.
Sistem SCADA sebelumnya juga telah dibahas BP Batam dan pengelola air sebagai teknologi untuk memantau jaringan distribusi secara digital dan real time. Sistem tersebut memungkinkan operator memantau tekanan pipa, mendeteksi gangguan lebih cepat dan menentukan langkah penanganan secara lebih efektif.
Dengan penguatan jaringan fisik dan sistem pemantauan digital, BP Batam menargetkan gangguan pasokan air dapat ditangani lebih cepat sekaligus mengurangi dampaknya terhadap masyarakat.(*)















