DPD PJS Kepri Turun Langsung ke Pulau Kasu untuk Investigasi Terkait Berita Proyek Siluman

2
Oplus_16908288

Batam, desaintoday.com – Langit di Pelabuhan Tanjung Riau, Kota Batam, mendadak berubah muram. Gumpalan awan hitam bergelayut rendah di atas perairan, disusul hujan yang turun semakin deras. Angin laut bertiup cukup kencang, sesekali menggoyangkan pompong-pompong yang bersandar di tepian dermaga. Namun seperti hari-hari biasanya, aktivitas nelayan dan perahu penyeberangan tetap berlangsung. Laut telah menjadi denyut kehidupan masyarakat pesisir.Rabu,(17/06/2026) pukul 10.00 wib.

Di tengah suasana itu, delapan anggota rombongan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Kepulauan Riau bersiap menyeberang menuju Pulau Kasu. Mereka bukan hendak menikmati panorama pulau-pulau kecil di wilayah hinterland Batam. Ada misi jurnalistik yang dibawa: memverifikasi langsung berbagai isu yang belakangan viral dan menyebut adanya sejumlah proyek yang disebut-sebut sebagai “proyek siluman” di Pulau Kasu.

Rombongan dipimpin langsung Ketua DPD PJS Kepri, Gusmanedy Sibagariang, didampingi Sekretaris Amran Sihombing, Bendahara Robinson Lumban Batu, serta sejumlah anggota lainnya. Berbekal catatan, kamera, alat dokumentasi, dan semangat untuk menghadirkan informasi yang berimbang, mereka memilih turun langsung ke lapangan.

Sebuah pompong viber berkapasitas tujuh  penumpang telah disiapkan. Namun, melihat cuaca yang semakin memburuk, tekong yang telah puluhan tahun mengarungi perairan Batam menyarankan agar keberangkatan ditunda.

“Lebih baik kita tunggu hujan reda dulu. Keselamatan lebih penting,” ujarnya singkat.

Rencana keberangkatan pun ditunda. Tak jauh dari dermaga, rombongan berteduh di warung sederhana milik Ibu Ros. Warung kecil itu berubah menjadi ruang redaksi darurat. Secangkir kopi hangat tersaji di atas meja, asap rokok mengepul, sementara diskusi mengenai arah liputan berlangsung di tengah suara hujan yang menghantam atap seng.

Bagi para jurnalis, menunggu bukanlah waktu yang terbuang. Justru di saat seperti itulah prinsip kehati-hatian dan verifikasi diuji.

Sekitar pukul 11.20 WIB, hujan mulai reda. Langit yang semula kelabu perlahan memperlihatkan semburat terang. Rombongan pun berangkat menuju Pulau Kasu.

Disambut Warga, Diajak Menelusuri Fakta

Setibanya di Pulau Kasu, tim DPD PJS Kepri disambut sejumlah tokoh masyarakat, pemuda Karang Taruna, Ketua RT/RW, hingga pengurus Forum RT/RW setempat. Kedatangan para jurnalis disambut hangat.

Tanpa banyak basa-basi, warga justru mengajak tim melihat langsung sejumlah pembangunan yang selama ini menjadi bahan perbincangan di media sosial.

Salah satunya adalah pembangunan jalan lingkar desa yang dikerjakan secara bertahap pada Tahun Anggaran 2025 dan 2026. Sebagian ruas jalan telah selesai dibangun, sementara sebagian lainnya masih dalam tahap pematangan lahan dengan panjang sekitar 2,5 kilometer.

Baca juga :  Karutan Batam Berbagi Daging Kurban Kepada Warga Binaan dan Masyarakat

Ketua RT 01 Pulau Kasu, Suhardi, mengatakan jalan tersebut menjadi harapan besar masyarakat karena merupakan akses yang banyak digunakan warga, terutama para pelajar.

“Jalan ini sering digunakan anak-anak sekolah karena lebih dekat. Kalau lewat sini, jaraknya bisa lebih singkat,” ujarnya.

Ia berharap pembangunan dapat segera dilanjutkan hingga tuntas.

“Coba bapak lihat sendiri bagaimana susahnya kami melewati jalan tanah merah ini kalau hujan turun. Kami berharap pembangunan ini segera diselesaikan agar masyarakat bisa menikmati akses yang lebih layak,” katanya.

Menjawab Isu “Proyek Siluman”

Tak berhenti di situ, warga kemudian mengajak tim meninjau proyek batu miring yang belakangan disebut dalam berbagai narasi sebagai proyek yang diduga tidak ada alias “proyek siluman”.

Di lokasi, tim mendapati bangunan batu miring memang berdiri di lokasi yang dimaksud. Material batu tersusun rapi, bangunan batu miring berdiri kokoh menghadap barat, bahkan masih butuh pembangunan lanjutan agar batu miring tersebut rampung.

Ketua Forum RT/RW Pulau Kasu, Dani, mengaku kecewa dengan tudingan yang berkembang tanpa didahului verifikasi lapangan.

“Kalau disebut proyek siluman, itu sangat menyakitkan hati masyarakat Pulau Kasu. Bapak lihat sendiri, proyeknya ada, batunya ada, pekerjanya juga ada. Kami heran kenapa bisa muncul tudingan seperti itu tanpa datang melihat kondisi sebenarnya,” ujarnya.

Menurut Dani, masyarakat tidak anti kritik. Namun kritik seharusnya disampaikan berdasarkan fakta yang telah diverifikasi.

“Kami tidak melarang orang mengkritik. Tapi jangan sampai menyampaikan sesuatu yang belum dipastikan kebenarannya. Datang dulu ke sini, lihat langsung, baru berbicara,” katanya.

Dani menjelaskan, di balik dinding batu miring tersebut terdapat akses jalan lingkar desa yang menjadi impian masyarakat selama bertahun-tahun.

“Itu harapan kami. Kami ingin akses jalan yang baik agar aktivitas masyarakat lebih mudah,” ucapnya.

Masjid Nur Iman Berdiri Kokoh

Tim kemudian melanjutkan penelusuran menuju Masjid Nur Iman Pulau Kasu yang juga sempat dikaitkan dalam isu yang berkembang.

Hasil pantauan di lapangan menunjukkan bangunan masjid berdiri kokoh dan aktif digunakan masyarakat untuk beribadah. Bahkan, di bagian depan masjid masih berlangsung pekerjaan pembangunan batu miring oleh sejumlah tukang.

Imam Masjid Nur Iman, Azhar, mengaku kecewa dengan narasi yang menyebut bantuan untuk desanya sebagai sesuatu yang tidak nyata.

Baca juga :  𝗔𝗺𝘀𝗮𝗸𝗮𝗿–𝗟𝗶 𝗖𝗹𝗮𝘂𝗱𝗶𝗮 𝗦𝗮𝗳𝗮𝗿𝗶 𝗡𝗮𝘁𝗮𝗹 𝟮𝟬𝟮𝟱, 𝗣𝗮𝘀𝘁𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗜𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵 𝗔𝗺𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗕𝗲𝗿𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻 𝗞𝗵𝗶𝗱𝗺𝗮𝘁

“Kami sedih mendengar pernyataan seperti itu. Orang yang berbicara mungkin tidak mengetahui kondisi desa kami. Kami di sini sedang berjuang membangun kampung dengan segala keterbatasan yang ada,” ujarnya.

Azhar mengatakan, keberadaan Pondok Pesantren Nurul Iman yang tumbuh di Pulau Kasu menjadi harapan besar masyarakat dalam meningkatkan pendidikan generasi muda.

“Kami berharap anak-anak di Pulau Kasu bisa mendapatkan pendidikan agama yang baik melalui ponpes ini. Jangan sampai semangat masyarakat membangun desa justru dipatahkan oleh narasi yang tidak sesuai dengan fakta lapangan,” katanya.

Sementara itu, Lurah Kasu, Budi, yang turut ditemui tim DPD PJS Kepri di kawasan dermaga Pulau Kasu, menegaskan bahwa berbagai program pembangunan yang telah berjalan di wilayahnya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Menurutnya, sejumlah infrastruktur yang belakangan menjadi perbincangan publik, seperti pembangunan batu miring, jalan lingkar desa, hingga keberadaan Masjid Nur Iman beserta Pondok Pesantren Nurul Iman, merupakan fasilitas yang memang dibutuhkan warga Pulau Kasu.

“Kalau ditanya manfaatnya, tentu masyarakat sangat terbantu. Pembangunan batu miring ini penting untuk memperkuat dan melindungi kawasan pesisir dari abrasi, sementara jalan lingkar desa menjadi akses yang sangat dibutuhkan warga dalam menjalankan aktivitas sehari-hari,” ujar Budi.

Ia menjelaskan, kondisi geografis Pulau Kasu yang berada di wilayah kepulauan membuat pembangunan infrastruktur memiliki arti penting bagi masyarakat. Jalan yang layak, menurutnya, bukan hanya mempermudah mobilitas warga, tetapi juga menjadi penunjang kegiatan pendidikan, ekonomi, dan sosial masyarakat.

“Masyarakat berharap pembangunan jalan lingkar desa dapat dilanjutkan hingga selesai sehingga manfaatnya bisa dirasakan secara menyeluruh. Terutama bagi anak-anak sekolah dan warga yang setiap hari menggunakan akses tersebut,” katanya.

Budi juga memberikan perhatian khusus terhadap keberadaan Masjid Nur Iman dan Pondok Pesantren Nurul Iman yang dinilainya telah memberikan kontribusi besar dalam pembinaan generasi muda di Pulau Kasu.

“Kami sangat terbantu dengan hadirnya Pondok Pesantren Nurul Iman untuk mendidik generasi muda, khususnya dalam pengajaran iman dan takwa. Kehadiran ponpes ini menjadi harapan bagi masyarakat agar anak-anak kami tidak hanya memperoleh pendidikan umum, tetapi juga memiliki bekal ilmu agama dan akhlak yang baik,” ungkapnya.

Menurut Budi, pembangunan fisik harus berjalan beriringan dengan pembangunan sumber daya manusia. Karena itu, sarana pendidikan keagamaan menjadi investasi jangka panjang yang sangat dibutuhkan masyarakat kepulauan.

Baca juga :  Galakkan Operasi Gempur Rokok Ilegal, Bea Cukai Batam Amankan Kapal Cepat Berisi Ratusan Ribu Rokok Ilegal

“Membangun desa bukan hanya membangun jalan atau bangunan semata. Yang tidak kalah penting adalah membangun manusianya. Kami ingin anak-anak Pulau Kasu tumbuh menjadi generasi yang berpendidikan, berakhlak, serta memiliki kecintaan terhadap kampung halamannya,” tuturnya.

Ia berharap berbagai pembangunan yang telah berjalan dapat terus mendapat dukungan semua pihak dan tidak menimbulkan polemik yang justru mengaburkan manfaat yang telah dirasakan masyarakat.

“Kalau ada kritik tentu itu hal yang baik sebagai bentuk pengawasan. Namun alangkah lebih bijak jika melihat langsung kondisi di lapangan dan mendengar suara masyarakat yang merasakan manfaatnya. Karena pada akhirnya, masyarakatlah yang paling mengetahui kebutuhan dan perkembangan di desanya sendiri,” pungkas Budi.

Kritik Harus Berbasis Fakta

Sementara itu, Ketua DPD PJS Kepri, Gusmanedy Sibagariang, menegaskan bahwa kehadiran tim ke Pulau Kasu bukan untuk membela pihak tertentu maupun menghakimi pihak lain.

Menurutnya, tugas jurnalis adalah memastikan informasi yang beredar diuji melalui verifikasi langsung.

“Kami datang bukan untuk mencari siapa yang salah atau siapa yang benar. Kami datang untuk memastikan fakta di lapangan. Apa yang dilihat, itulah yang kami tuliskan. Apa yang disampaikan warga, itulah yang kami dengarkan. Prinsip jurnalisme adalah verifikasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, kritik merupakan bagian dari kontrol sosial yang dijamin dalam negara demokrasi. Namun kritik yang baik tetap harus didasarkan pada data, dokumen, dan pengecekan lapangan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Di akhir penelusuran, Dani kembali menyampaikan apresiasinya terhadap perhatian pemerintah terhadap pembangunan di Pulau Kasu.

“Pembangunan di Pulau Kasu berjalan baik. Kami merasakan manfaatnya. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Pak Iman Sutiawan yang selama ini memperhatikan kebutuhan masyarakat Pulau Kasu,” ungkapnya.

Perjalanan ke Pulau Kasu akhirnya menjadi pelajaran penting bahwa di tengah derasnya arus informasi, fakta tidak cukup dicari dari balik layar telepon genggam. Ia harus dijemput langsung ke lapangan, didengar dari suara masyarakat, dilihat dengan mata kepala sendiri, lalu disampaikan secara utuh kepada publik.

Sebab dalam jurnalisme, kebenaran tidak dibangun dari asumsi. Kebenaran lahir dari verifikasi.

Pemberitaan ini merupakan hasil penelusuran lapangan DPD PJS Kepri Pihak-pihak yang sebelumnya menyampaikan kritik atau tudingan terkait pembangunan di Pulau Kasu tetap memiliki hak jawab sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
[Redaksi]