Tanjung Pinang, desaintoday.com – Di Balik Pesona Wisata Sejarah dan Religi, Pulau Penyengat di Kepulauan Riau Menyimpan Cerita Mistis yang Terus Menjadi Perbincangan Wisatawan.
Pulau Penyengat, salah satu destinasi wisata sejarah dan religi kebanggaan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), bukan hanya dikenal karena keindahan bangunan bersejarah, masjid bersejarah, serta warisan kebudayaan Melayu.
Pulau yang sarat dengan jejak kejayaan Kesultanan Riau-Lingga ini juga menyimpan cerita mitos dan pantangan lokal yang hingga kini masih menarik perhatian masyarakat.
Salah satu cerita yang cukup melekat di tengah masyarakat dan menjadi perbincangan wisatawan adalah mitos pantangan bagi pasangan kekasih atau yang dikenal dengan sebutan dua sejoli.
Berdasarkan cerita yang beredar di masyarakat, terdapat kepercayaan bahwa pasangan yang belum menikah dan datang berkunjung bersama ke Pulau Penyengat konon katanya tidak akan berjodoh atau hubungan mereka tidak akan berlanjut hingga ke jenjang pernikahan.
Mitos itu menjadi cerita tersendiri bagi sebagian wisatawan, khususnya pasangan muda yang berkunjung ke pulau tersebut.
Kendati demikian, cerita mengenai pantangan dua sejoli itu merupakan kepercayaan atau mitos yang berkembang di masyarakat.
Hingga kini belum ada bukti ilmiah maupun catatan sejarah yang dapat membuktikan bahwa kunjungan pasangan ke Pulau Penyengat memiliki kaitan dengan kegagalan hubungan atau pernikahan.
Namun justru, di balik cerita mitos tersebut, Pulau Penyengat menyimpan sejarah panjang tentang pernikahan, cinta, kekuasaan, dan peradaban Melayu.
Menariknya, salah satu babak penting sejarah Pulau Penyengat justru berkaitan erat dengan sebuah pernikahan kerajaan.
Pada awal abad ke-19, sekitar tahun 1803 atau 1805 berdasarkan perbedaan catatan sejarah, Sultan Mahmud Syah III menghadiahkan Pulau Penyengat kepada Engku Putri Raja Hamidah sebagai mas kawin atau hadiah pernikahan.
Engku Putri Raja Hamidah merupakan putri dari Raja Haji Fisabilillah, tokoh perjuangan yang dikenal dalam sejarah perlawanan terhadap kolonial Belanda.
Sejak saat itu, pulau yang sebelumnya belum berkembang menjadi kawasan permukiman kerajaan tersebut mulai dibangun dan berkembang menjadi pusat kediaman Engku Putri sekaligus memiliki peran penting dalam pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga.
Sejarah ini menjadi salah satu sisi menarik Pulau Penyengat. Sebuah pulau yang menyimpan cerita tentang pernikahan kerajaan, tetapi kini juga dikenal melalui mitos pantangan bagi pasangan yang belum menikah.
Selain mitos dua sejoli, asal-usul nama Pulau Penyengat juga memiliki cerita legenda yang menarik.
Konon, nama Penyengat berasal dari pengalaman para pelaut zaman dahulu yang singgah ke pulau tersebut untuk mencari air tawar. Saat berada di kawasan pulau, mereka diserang kawanan lebah kecil yang memiliki sengatan.
Dari cerita itulah nama Penyengat kemudian dikenal dan melekat hingga sekarang.
Masyarakat juga mengenal pulau ini dengan sebutan Penyengat Indrasakti. Sementara pada masa kolonial, Belanda menyebutnya sebagai Pulau Mars.
Pulau Penyengat bukan sekadar destinasi wisata biasa. Pulau ini pernah menjadi salah satu pusat penting pemerintahan, pertahanan, adat istiadat, dan kebudayaan Melayu.
Sejak awal abad ke-19 hingga berakhirnya Kesultanan Riau-Lingga pada 1911, Pulau Penyengat menjadi tempat kedudukan Yang Dipertuan Muda yang memiliki peran besar dalam pemerintahan kerajaan.
Pulau ini juga memiliki sistem pertahanan militer, salah satunya Benteng Bukit Kursi yang dilengkapi meriam-meriam besar untuk menghadapi ancaman serangan musuh, termasuk kekuatan kolonial Belanda.
Tidak hanya memiliki nilai sejarah pemerintahan dan pertahanan, Pulau Penyengat juga dikenal sebagai pusat perkembangan intelektual dan bahasa Melayu.
Di pulau inilah Raja Ali Haji, seorang ulama, sejarawan, dan pujangga besar Melayu, melahirkan berbagai karya penting, termasuk Gurindam Dua Belas.
Warisan pemikiran dan bahasa Melayu yang berkembang di lingkungan intelektual Pulau Penyengat turut menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah bahasa Indonesia.
Salah satu bangunan paling ikonik di Pulau Penyengat adalah Masjid Raya Sultan Riau.
Masjid bersejarah yang pertama kali dibangun pada 1803 dan mengalami pembangunan kembali atau renovasi besar pada 1832 ini menjadi daya tarik utama wisata religi di Kepulauan Riau.
Masjid tersebut terkenal dengan warna kuning dan hijau yang mencolok serta kisah penggunaan putih telur sebagai bahan campuran perekat bangunan.
Selain arsitekturnya yang khas, masjid ini juga menyimpan Al-Qur’an tulisan tangan karya Abdurrahman Stambul, yang menjadi salah satu peninggalan berharga dari tradisi keilmuan Islam di Pulau Penyengat.
Bagi wisatawan, mengunjungi masjid ini bukan hanya kesempatan menikmati keindahan arsitektur, tetapi juga mengenal perjalanan sejarah Islam dan kebudayaan Melayu.
Daya tarik Pulau Penyengat juga dapat ditemukan melalui sejumlah situs peninggalan kerajaan.
Wisatawan dapat mengunjungi kompleks makam keluarga kerajaan, termasuk makam Raja Haji Fisabilillah dan Raja Ali Haji.
Selain itu, terdapat Istana Kantor serta Balai Adat Melayu yang menyimpan jejak kehidupan pemerintahan dan tradisi masyarakat Melayu pada masa Kesultanan Riau-Lingga.
Setiap bangunan dan kawasan bersejarah tersebut memiliki cerita tersendiri yang menjadi bagian dari identitas Pulau Penyengat.
Perjalanan kejayaan Pulau Penyengat sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga berakhir pada 1911 setelah Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah dimakzulkan oleh pemerintah kolonial Belanda.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu titik penting berakhirnya kekuasaan Kesultanan Riau-Lingga.
Meski kekuasaan kerajaan telah berakhir, warisan sejarah, bahasa, adat istiadat, dan kebudayaan Melayu yang tumbuh di Pulau Penyengat tetap hidup hingga sekarang.
Pulau ini pun dikenal sebagai kawasan cagar budaya dan salah satu destinasi wisata sejarah unggulan di Provinsi Kepulauan Riau.
Cerita pantangan dua sejoli mungkin menjadi salah satu kisah yang membuat wisatawan penasaran. Namun, mitos tersebut tidak seharusnya menutupi kekayaan sejarah dan potensi wisata yang dimiliki Pulau Penyengat.
Bagi pasangan muda, berkunjung ke Pulau Penyengat tidak perlu menjadi sesuatu yang ditakuti hanya karena cerita yang berkembang di masyarakat.
Sebab, pulau ini memiliki jauh lebih banyak hal untuk dikenang, mulai dari sejarah pernikahan kerajaan, perjuangan para pahlawan, perkembangan bahasa Melayu, wisata religi, hingga keindahan budaya yang diwariskan lintas generasi.
Pada akhirnya, mitos boleh menjadi cerita, sejarah menjadi pelajaran, dan wisata menjadi pengalaman.
Pulau Penyengat bukan hanya menyimpan kisah masa lalu, tetapi juga menjadi pengingat bahwa Kepulauan Riau memiliki warisan peradaban Melayu yang patut dijaga dan diperkenalkan kepada generasi mendatang.(*)















