Perusahaan Inggris Lirik Batam untuk Bisnis Data Center

2
Oplus_16908288

Batam, Batam mulai dilirik Inggris sebagai salah satu tujuan pengembangan industri pusat data di Asia Tenggara. Beberapa perusahaan Inggris bersama British Embassy Jakarta datang ke Batam dalam misi dagang khusus sektor data center pada Kamis (01/10/2026).

Delegasi tersebut diterima Anggota/Deputi Bidang Investasi BP Batam Fary Djemy Francis di ruang presentasi Marketing Center BP Batam. Kunjungan ini merupakan bagian dari UK Data Centre Trade Mission ke Indonesia yang berlangsung pada 28 September hingga 1 Oktober 2026.

Pertemuan membahas peluang kerja sama pengembangan ekosistem data center, termasuk kebutuhan energi, air, teknologi pendinginan, efisiensi operasional, logistik hingga pengembangan tenaga kerja lokal.

Fary mengatakan BP Batam kini tidak lagi hanya menawarkan lahan kepada investor. Infrastruktur pendukung harus disiapkan lebih dulu agar investasi yang masuk tidak justru menambah beban terhadap layanan dasar.

Prinsip itu dirangkum BP Batam dalam konsep “Utility First, Investment Follows” atau utilitas disiapkan lebih dahulu sebelum investasi berkembang.

“Batam terus memperkuat kepastian regulasi, mempercepat layanan investasi, dan memberikan pendampingan sejak perizinan hingga pelaksanaan proyek,” kata Fary.

Kepastian regulasi yang dimaksud antara lain memastikan aturan dan proses investasi memiliki kejelasan sehingga investor mengetahui persyaratan, tahapan, serta mekanisme yang harus dipenuhi. Sementara percepatan layanan berarti proses administrasi dan fasilitasi pak investasi didorong agar tidak berlarut-larut.

Adapun pendampingan sejak perizinan hingga proyek berjalan berarti BP Batam tidak berhenti ketika investor mendapatkan izin. Investor tetap difasilitasi dalam proses realisasi proyek, termasuk koordinasi dengan pihak terkait ketika membutuhkan utilitas, infrastruktur maupun layanan pendukung.

Pendekatan tersebut menjadi penting karena kebutuhan industri data center jauh lebih besar dibandingkan industri biasa. Data center membutuhkan listrik dalam jumlah besar dan harus tersedia secara stabil, selain air untuk operasional serta sistem pendinginan.

Baca juga :  Kepala BP Batam Sambut Ribuan Peserta Jamselinas se Tanah Air, Bekayuh Besame Tambah Sodare

Berdasarkan pemetaan BP Batam, kapasitas industri data center yang sudah ada, telah berkomitmen maupun masih dalam pipeline di Batam mencapai 1,47 gigawatt (GW) IT.

Untuk mengantisipasi kebutuhan tersebut, sistem kelistrikan Batam juga disiapkan untuk tumbuh. Beban puncak listrik diproyeksikan meningkat dari sekitar 841 megawatt (MW) pada 2026 menjadi 2.540 MW pada 2035. Daya mampu pasok direncanakan mencapai 3.691 MW.

Sementara untuk air, BP Batam mendorong setiap pengembangan data center membangun Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) atau teknologi yang mengolah air laut menjadi air tawar untuk kebutuhan operasionalnya. Langkah ini ditujukan agar kebutuhan industri tidak mengambil porsi berlebihan dari pasokan air waduk yang digunakan masyarakat.

BP Batam bahkan menyiapkan sumber air alternatif dalam jangka panjang. Kontribusi SWRO ditargetkan mencapai 2.500 liter per detik, ditambah air daur ulang 500 liter per detik serta embung dan stormwater masing-masing dalam skema pengembangan yang direncanakan.

Fary mengatakan kesiapan utilitas tersebut menjadi bagian penting dari strategi Batam menarik investasi digital. “Kami mengundang investor dan mitra strategis untuk berkolaborasi dalam pengembangan ekosistem data center yang terintegrasi dan berkelanjutan,” sebut dia.

Ekosistem terintegrasi yang dimaksud bukan hanya membangun gedung data center. Di dalamnya terdapat jaringan listrik, pasokan air, sistem pendingin, konektivitas telekomunikasi, logistik, tenaga kerja serta layanan investasi yang saling mendukung.

Dengan begitu, investor tidak hanya mendapatkan lokasi untuk membangun pusat data, tetapi juga kepastian bahwa kebutuhan operasionalnya dapat dipenuhi dalam jangka panjang.

Ketertarikan tersebut mendapat respons dari British Embassy Jakarta. Head of Second Cities British Embassy Jakarta, Farah Chaudry, mengatakan pihaknya melihat peluang kerja sama dalam pengembangan ekosistem data center di Batam.

Baca juga :  Perluas Ekspansi Timah, Adik Prabowo Bangun Pabrik di Batam

“Kami tertarik memahami prioritas pengembangan data centre Batam dan bagaimana perusahaan Inggris dapat terlibat secara efektif,” kata Farah.

Head of Second Cities merupakan jabatan yang berkaitan dengan pengembangan hubungan dan kerja sama Inggris dengan kota-kota di luar pusat pemerintahan atau kota utama. Dalam konteks kunjungan ini, Farah menjadi salah satu perwakilan British Embassy yang menangani peluang kerja sama dengan kota-kota seperti Batam.

Pembahasan dengan delegasi Inggris mencakup efisiensi energi dan air, teknologi pendinginan data center, logistik, serta pengembangan tenaga kerja lokal. Delegasi juga melibatkan perwakilan British Chamber of Commerce (BritCham) Indonesia dan Indonesia Data Center Association (IDPRO).

Kehadiran perusahaan-perusahaan Inggris itu menjadi bagian dari upaya mencari peluang bisnis baru di tengah pesatnya perkembangan industri data center Batam.

“Kunjungan ini menjadi kesempatan untuk mengenali peluang proyek dan memperluas kerja sama di sektor digital serta infrastruktur,” tutup Farah.(*)